
Pantauan wartawan di lokasi, puluhan rumah di desa yang berada di Barat Daya Sinabung itu terlihat sepi seperti kota mati. Abu vulkanik terlihat menutupi jalan, tanaman dan atap rumah warga.
Desa yang sebelumnya dihuni 200 lebih kepala keluarga, sejak empat hari terakhir ditinggalkan penghuninya bak desa mati. Tak ada aktivitas warga, hanya ada hewan dan anjing berkeliaran.
Namun Kamis (7/11/2013) siang, terlihat ada dua orang yang tetap berjaga-jaga di desa tersebut. Penjagaan dilakukan secara bergantian untuk keamanan desa meski di bawah ancaman Gunung Sinabung yang terus bergemuruh.
"Atas musyawarah warga, kami secara bergantian menjaga desa, pagi, siang dan malam hari. Saat ini giliran kami disuruh menjaga desa ini secara bergantian," ujar Sugih Ginting, penjaga desa.
Dua hari lalu, Selasa (5/11/2013), Gunung Sinabung meletus bahkan mengeluarkan erupsi abu vulkanik. Bahkan pada letusan terakhir ini arah lontaran debu vulkanik berubah dari letusan sebelumnya.
Pusat Vulkanologi Badan Geologi melaporkan ke Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pukul 14.31 WIB teramati awan panas meluncur dari lereng sejauh satu kilometer ke arah Tenggara.
Ini adalah pertama kali awan panas keluar dari kawah Gunung Sinabung sejak meletus September 2013 lalu. Tidak ada korban jiwa akibat luncuran awan panas, karena masyarakat sudah dievakuasi. Hampir dua ribu pengungsi masih bertahan dengan kondisi yang memprihatinkan. [ded]
KOMENTAR ANDA