
Sekretaris Departemen Pemajuan dan Perlindungan HAM DPP Demokrat Rachland Nashidik menyatakan, ada dua poin menarik dari pemberian penghargaan itu. Pertama, penghargaan ini diberikan saat Indonesia mencari rujukan pemimpin yang sesuai dengan demokrasi Indonesia.
"Selama ini, kita belum punya rujukan pemimpin yang ideal untuk demokrasi Indonesia. Nah, Pak SBY tampil dengan begitu moderat, mendengarkan semua, tidak bertindak berdasarkan keinginan pribadi," katanya, Selasa malam (23/10).
Selama ini, kata Rachland, SBY sering dikritik lemah dan lambat. Tapi, itu bukan SBY tidak mau bersikap. SBY memilih sistem bekerja. Inilah yang cocok dengan demokrasi Indonesia.
Poin kedua, kata Rachland, penghargaan itu diberikan saat ada anggapan popularisme lebih penting dari demokrasi. Saat ini, figur Prabowo begitu naik karena dianggap antitesa atas kepemimpinan SBY.
"Sekarang kita bisa melihat, penting mana demokratis atau popularisme," katanya.
Dia menambahkan, penghargaan yang diperoleh SBY adalah hasil kerja keras selama ini. Penghargaan itu ada bentuk reward dari masyarakat.
"Ini insentif fari masyarakat. Ini pengakuan masyarakat," katanya.
Namun, dia memastikan, dalam kerja, SBY tidak pernah berharap dapat pamrih. SBY kerja betul-betul untuk kebaikan bangsa dan negara. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA