
Salah seorang aktivis yang terlibat aktif dalam Petisi Blok Mahakam, M Hatta Taliwang, menyadari penuh pasti ada sementara kalangan yang memandang sinis, atau bahkan jengkel, dengan sikap Petisi Blok Mahakam yang membela Pertamina dalam persoalan Blok Mahakam ini. Sebab toh Pertamina juga dinilai tidak becus, dan bahkan diduga menjadi sarang koroptur.
"Kita memang tak ada pilihan lain kalau kita mau melawan asing dan menegakkan kedaulatan di bidang energi. Pahit-pahitnya harus kita telan dulu. Kita juga paham ada semacam skenario dari dulu dari kekuatan besar melemahkan BUMN, atau Pertamina. Namun dengan pepatah jangan bakar lumbung jalau mau menangkap tikus, maka suka tidak suka, demi Indonesia, kita bela BUMN sesuai amanat konstitusi," ungkap Hatta, yang juga Koordinator Gerakan Diskusi 77/78, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 10/10).
Ke depan, Hatta berharap Pertamina mampu memberikan keuntungan lebih besar, atau setidaknya sama besar dibandingkan Total&Inpex yang menjadi pengelola Blok Mahakam saat ini. Keuntungan tersebut bisa berupa NPV yang lebih baik, program pengembangan yang lebih menjamin peluang penambahan cadangan baru untuk sustainability energi lebih panjang, cost recovery lebih rendah dan lai-lian.
"Memang betul ada unsur pride di sini. Namun bagaiamana pun pembangunan kita kan tetap butuh dana, misalnya mengurangi utang," tegas Hatta, sambil mengatakan bahwa sejak zaman Ibnu Sutowo, Pertamina sudah terlalu banyak mendapatkan previllege yang seharusnya telah mengantarkannya menjadi world class oil company, namun sayang kini malah kalah dibandingkan dengan Petronas, yang bahkan dulu belajar pada Pertamina.
"Jadi marilah dengan segala kejengkelan, kita bela kepentingan yang lebih besar dan strategis, demi hari depan Indonesia. Tentu saja, sambil kita kritisi BUMN Pertamina," demikian Hatta. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA