
Salah satu syarat pembebasan bersyaratnya, Nakoula yang tinggal di Cerritos, pinggiran kota Los Angeles itu, dilarang mengakses internet atau menggunakan nama samaran tanpa izin petugas pembebasan bersyaratnya. Dia dinilai menyalahi aturan bebas bersyarat yang diterimanya pada 2011.
Film menghebohkan berdurasi 13 menit itu yang dibuat di California dan didistribusikan melalui internet dengan beberapa judul, salah satunya adalah Innocence of Muslims.
Tetapi, Nakoula (55) ditahan bukan dalam kaitannya sebagai pembuat film menghebohkan itu. Pria keturunan Mesir itu ditahan dan diadili terkait dengan kasus penipuan perbankan.
Publik baru melihat sosok Nakoula yang sebenarnya saat digiring ke pengadilan Los Angeles, kemarin. Namun, media dilarang untuk masuk dan meliput langsung sidang dan hanya diperbolehkan melihat melalui video streaming.
Hakim ketua pengadilan Suzanne Segal memerintahkan penahanan kepada Nakoula tanpa batas tertentu. “Kali ini pihak pengadilan kehilangan kepercayaan atas tersangka. Dia sudah melanggar delapan masa percobaan,” ujar Segal.
Namun, pengacara Nakoula, Steven Seiden, menyebutkan bahwa kliennya tidak pernah melanggar masa percoban. Seiden juga memohon agar pengadilan tidak menempatkan Nakoula di tahanan federal.
“Saya mengkhawatirkan keamanan klien saya. Sebab di sana banyak napi Muslim,” ujar Seiden. Di pengadilan, Nakoula mengaku bahwa nama aslinya adalah Mark Basseley Youseff. Dia sengaja memakai nama ‘Nakoula’ untuk melakukan penipuan.
Umat Muslim menilai film ini menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW sehingga memicu aksi protes di berbagai belahan dunia. Salah satu aksi protes di Benghazi, Libya, diduga diboncengi kelompok tertentu untuk menyerang gedung Konsulat AS di Libya.
Pada peristiwa 11 September lalu di Benghazi, Dubes AS untuk Libya, Christopher Stevens, dan tiga stafnya tewas dalam kerusuhan di kota sebelah timur Libya itu. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA